Abstract
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium Tuberculosis. Indonesia masih menempati urutan kedua sebagai negara dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia pada tahun 2023 yang lalu mencapai sekitar 1.060.000 kasus. Pasien TB paru mengalami tanda dan gejala seperti batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Selain masalah fisiologis, juga terdapat masalah psikologis pada pasien TB paru seperti cemas penyakitnya menular pada orang lain, sikap pasif, merasa rendah diri, penerimaan diri rendah. Kemampuan seseorang untuk berkembang dalam upaya menghadapi kesulitan atau permasalahan hidupnya disebut sebagai resiliensi atau ketahanan. Salah satu faktor yang mempengaruhi resiliensi adalah dukungan sosial keluarga.Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara dukungan keluarga dengan resiliensi penderita TB paru di wilayah Puskesmas Garuda Bandung. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analitik korelasi dengan pendekatan cross-sectional, sampel 65 orang dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner dukungan sosial keluarga dan kuesioner resiliensi pasien TB Paru. Analisis bivariat menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 46 orang (70,8%) memperoleh dukungan keluarga yang baik. Sebanyak 38 orang (58,5%) memiliki resiliensi yang tinggi. Terdapat hubungan dukungan keluarga dengan resiliensi penderita TB paru di Puskesmas Garuda Bandung dengan p value 0,000. Simpulan dalam penelitian ini menunjukkan semakin tinggi dukungan sosial keluarga maka semakin tinggi pula resiliensi penderita TB, maka perawat diharapkan memotivasi keluarga dalam mendukung pasien TB Paru.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.
Copyright (c) 2025 Erlina Fazriana, Randika Septembo Matrof, Usan Daryaman, Fitri Sesilia